Mata VS Telinga, Tulisan Cacat Ketika Sakit Kepala

Menjadi manusia itu menyenangkan,paling tidak kita bisa menjadi mahluk yang paling sulit dipahami,dan hanya manusia yang bisa memiliki perbedaan ekstrim antara hati dan logika..haha.
Banyak orang,termasuk orang - orang terdekat saya sering bercerita mengenai uniknya personalitas seorang manusia yang bisa ditaksir secara sederhana dan tidak serumit arti harafiah akan manusia itu sendiri. Mereka bilang,hanya dengan melihat,mereka bisa menaksir bagaimana kira - kira sifat dan tabiat orang tersebut. Melihat pakaian,melihat cara makan atau minum,melihat penampilan,melihat impresi pertama seseorang,dan yang paling konyol yang pernah saya dengar,hanya dengan melihat wajah seseorang,bisa disimpulkan bagaimana kira - kira kepribadian orang tersebut. Hebat skali bukan,haha..dari hal tersebut saya akhirnya menyadari darimana sentimen pribadi seseorang berasal.
Saya hanya bisa tertawa dan miris rasanya mengetahui bagaimana absurbnya pendapat -pendapat soal bagaimana mengetahui kepribadian seseorang. Bayangkan saja,orang berwajah melankolis,pasti sifatnya jg melankolis,orang berwajah gahar,sifatnya pasti kasar,orang berwajah baby face pasti sifatnya childish,orang yang pakaiannya gak stylish pasti dari golongan menengah kebawah,dan masih banyak lagi anggapan - anggapan seputar hal tersebut yang cukup aneh buat saya. Padahal bisa saja,tanpa sepengetahuan kita,orang berwajah gahar itu baik dan lembut,atau orang yg berpakaian sederhana itu sebenarnya pemilik suatu perusahaan yang banyak duit. Kita tidak akan pernah tahu bukan? Haha..
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa pendapat - pendapat diatas ada benarnya juga,namun untuk saya,terlalu sederhana dan terlalu terkesan menghakimi jika menilai seseorang hanya dengan “melihat” segala sesuatu yang kasat mata dari orang tersebut. Kadang saya berpikir, begitu arogan kah kita, sehingga bisa menghakimi orang lain dengan cara yang terlalu sederhana? Bukankah kita juga sama buruknya dengan manusia lain? Banyak dosa, banyak cela?
Saya sendiri lebih memilih untuk lebih banyak mendengarkan ketimbang melihat. Mendengarkan orang berbicara dan bercerita,mendengarkan orang berpendapat,dan mendengarkan orang tersebut menjawab pertanyaan - pertanyaan saya.
Dari mendengar secara langsung saya kurang lebih tahu pemikiran,pola pikir,dan personalitas seseorang yang tak terduga,yang tidak akan disangka ketika melihat tampilan luarnya saja. Paling tidak,hal tersebut adalah cara yang sampai skarang masih saya yakini lebih bijak untuk belajar mengenal orang lain.
Lalu jika ada yang bertanya bagaimana cara menilai seseorang tanpa terkesan atau bermaksud menghakimi,saya akan menjawab, coba dengarkan dia berbicara dan bercerita lebih lama dari biasanya. Pasti dia akan dengan senang hati menceritakan siapa dirinya sesungguhnya. Dan kita? Dengan hati yang besar kita bisa mencoba untuk menilai orang lebih bijaksana.

# Ditulis di meja sudut ruangan,ketika sakit kepala siang - siang.

03.05.11